SURAT TERBUKA Untuk Bapak Menag Lukman Hakim Saifuddin

Yth. Bapak Menag Lukman Hakim Saifuddin,

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan saya menulis Surat Terbuka ini. Saya, bagian dari rakyat Indonesia, Alhamdulillah seorang muslim dan, terus belajar untuk menjadi seorang muslim yang kaffah.

Hari ini, saya tergelitik dengan berita yang disajikan Republika Online, yang berisi klarifikasi bapak tentang Islam Nusantara >> http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/07/08/nr5w1h-ini-klarifikasi-menag-tentang-islam-nusantara  Bukan maksud saya untuk berpolemik tentang Islam nusantara, seperti yang disarankan oleh bapak ketua PBNU, mungkin karena kebodohan saya, klarifikasi bapak justru membuat saya bingung, sebagai seorang muslim dan awam, maka ijinkan saya untuk memberikan beberapa pertanyaan untuk bapak, yang mungkin akan saya jawab sendiri, jika bapak berkenan, mohon tanggapan bapak, agar saya lebih yakin dan mantab, karena menurut pandangan saya, keIslaman bapak tentunya jauuuuhhh di atas saya yang awam :

1. APA ISLAM ? Dari yang pernah diajarkan guru agama dan ustad pada saya, Islam adalah agama samawi, yang diturunkan oleh Allah, untuk SEMUA UMAT MANUSIA, dan memberi rahmat untuk seluruh alam ( rahmatan lil alamin ),  melalui nabi2 dan rasul2 Nya, benar begitu pak?

2. Jika bapak setuju dengan poin (1), maka ISLAM adalah ISLAM, ISLAM bukan BUDAYA ARAB, karena bukan orang arab yang menciptakan Islam, tapi ALLAH dan hanya ALLAH, betul pak? Ada pernyataan bapak yang mengusik saya, masih dari klarifikasi bapak mengenai Islam nusantara,

“Bagaimana nilai-nilai Islam ini terkait dengan penyikapan terhadap perempuan, misalnya. Yang tidak sama jika diterapkan di wilayah lain. Bagaimana nilai-nilai islam menyikapi perbedaan yang ada. Bahkan terhadap perbedaan yang bisa masuk kategori akidah lalu kemudian mengusik atau merampas hak-hak mereka,”

Yang bisa saya tangkap dari pernyataan bapak di atas adalah, bahkan akidah agama ( Islam )pun bisa disesuaikan dengan ‘muatan lokal’ ( baca : budaya daerah setempat ), kalau itu kaitannya dengan perempuan, apakah maksud pernyataan bapak adalah hijab, pakaian untuk wanita muslimah?  Pakaian, dalam konteks Islam adalah untuk menutup AURAT, baik bagi muslim laki-laki, maupun muslim perempuan, betul pak? Dan AURAT sudah sangat gamblang dijelaskan dalam Islam batas-batasnya untuk muslim perempuan maupun muslim laki-laki. Untuk batas-batas aurat, tidak perlu saya bahas di sini, hal itu sudah diajarkan dalam pelajaran agama Islam, sejak SD. INTINYA  adalah, FUNGSI dari pakaian, baik untuk perempuan maupun laki-laki adalah untuk MENUTUP AURAT. Apapun bangsa dan budaya kita, termasuk pakaian tradisional yang menjadi bagian dari budaya lokal, selama pakaian itu sudah sesuai dengan syariat Islam, dan mampu menutup aurat, sebagaimana fungsi pakaian menurut syariat Islam, tentu saja diperbolehkan dalam Islam. Perlu saya garis bawahi, HIJAB adalah ajaran Islam, BUKAN pakaian tradisional perempuan arab ! maka, HIJAB jangan diartikan ARABISASI yang ‘tidak sesuai’ dengan budaya lokal kita, apalagi “mengusik dan merampas hak-hak mereka (perempuan) !” Jadi, saya merasa aneh saja, seorang muslim, seorang menteri agama seperti bapak, membuat pernyataan seperti itu. Manusialah ( baca: budaya ) yang harus menyesuaikan / mengikuti ajaran / syariat Islam, BUKAN sebaliknya, ajaran / akidah / syariat Islam yang harus mengikuti / menyesuaikan dengan budaya ( manusia ). BUKANKAH Islam diturunkan oleh Allah, untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia pak? Artinya, manusialah yang harus mengikuti ajaran2 / syariat / akidah Islam, bukan sebaliknya !  Tapi, Allah memberi KEBEBASAN umat manusia, untuk memilih jalan hidupnya, apakah mau mengikuti jalan Allah, yang sudah digariskan dalam agama Islam, atau mengikuti jalannya sendiri? Tentunya apapun jalan hidup yang dipilih manusia, semua ada konsekwensinya.

3. Apakah klarifikasi bapak, sebagai bentuk pembelaan terhadap JIN ( Jemaat Islam Nusantara ) ? >> http://www.suara-islam.com/read/index/14628/Jemaat-Islam-Nusantara–JIN—Paham-Sesat-Menyesatkan 

Saya sangat paham posisi bapak sebagai menteri, pembantu presiden dan, saya tahu, presiden sudah mempromosikan Islam nusantara ke dunia, termasuk mengundang jemaatnya ke istana dan, didukung oleh bapak ketua PBNU >> http://www.muktamarnu.com/ketua-umum-pbnu-jelaskan-makna-islam-nusantara.html

maka bapak harus mendukung kebijakan presiden. Kalo Islam nusantara dijadikan presiden sebagai bentuk ‘promosi’ untuk menarik simpati dunia, karena ‘stigma’ Islam adalah ‘teroris’ dan presiden ingin menepis itu, saya acungin jempol, berhasil ! Dunia menganggap Islam di Indonesia berbeda, bapak bangga..? Maaf, saya pribadi TIDAK BANGGA ! menurut saya, kita berISLAM untuk menarik simpati ALLAH, bukan menarik simpati manusia lain pun dunia ! Saya tidak mendukung kekerasan yang dilakukan saudara-saudara kita sesama muslim di luar sana, tapi itu bukan alasan bagi kita untuk membuat ‘divisi’ Islam tersendiri, mengikuti aturan kita sendiri, agar tidak dicap dunia sebagai TERORIS..???!!  Kalo kita bicara ‘teroris’, apa yang terjadi dengan pengungsi muslim rohingya bukan bentuk teror? dan penguasa setempat tidak bisa dikatakan sebagai teroris karena mereka bukan muslim? tidak berjenggot..? Apakah menurut bapak ini adil ? Apakah bapak tega mengorbankan dan menggadaikan Islam untuk ‘menyenangkan’ atasan bapak, demi kedudukan bapak? Tidak usah dijawab pertanyaan saya ini pak, MOHON lepaskan sejenak atribut bapak sebagai menteri, pakai ‘pakaian’ ISLAM, lalu tanya pada nurani bapak sendiri… Tolong, jangan ajari kami untuk menjadi muslim pengecut pak !

Menurut saya, Islam nusantara adalah BULLSHIT ! pembodohan luar biasa terhadap umat Islam di Indonesia.. ! Apa hak kita ‘memaksa’ Islam untuk menyesuaikan dengan ‘muatan lokal’ yang disebut ‘budaya nusantara’ ? UU dan PERATURAN boleh dan bisa direvisi, disesuaikan dengan situasi dan kondisi terkini, karena UU dan PERATURAN dibuat oleh manusia pada masa / jaman yang berbeda, yang mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi terkini.  Tapi agama ( baca: Islam ) tidak dibuat oleh manusia, kalo bapak setuju dengan pertanyaan saya poin (1), apakah kita merasa ilmu kita melebihi ILMU ALLAH ? sehingga kita merasa punya hak untuk merevisi, memilah dan memilih, menyesuaikan ajaran2 agama ( Islam ), disesuaikan dengan kemauan kita sendiri, dengan mengatas namakan BUDAYA ? Dengan kata lain, apakah kita merasa lebih tahu kebutuhan kita dibanding ALLAH ?  Sebenarnya simpel saja pak, Allah memberi petunjuk umat manusia melalui agama Islam, kita mau ikut silahkan, tidak juga Allah tidak memaksa, bebas.. ! Kalo merasa Islam tidak sesuai dengan kemauan kita, ya tinggalkan saja, pilih agama lain yang kita anggap lebih sesuai, atau kalo perlu, bikin agama baru, JANGAN usik dan utak atik agama ISLAM ! karena ISLAM diturunkan oleh Allah untuk seluruh umat manusia, penghuni bumi, bukan hanya untuk orang Indonesia saja dan TIDAK ADA KEPENTINGAN Allah di dalamnya, semua untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri, sebagai pembeda manusia dengan mahluk Allah yang lain.

Kalo masih mau ‘merevisi’ ISLAM, harusnya ALLAH diundang pak, atau nunggu bapak ‘dipanggil’ ALLAH, untuk mendiskusikannya, karena HANYA ALLAH yang berhak atas ISLAM, kita manusia hanya punya pilihan, mengambil ISLAM sebagai WAY OF LIFE kita, atau pakai pedoman hidup yang lain ? SIMPLE kan pak… ?

Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Advertisements
Standard